Jumat, 04 Februari 2011

Selaksa makna suasana Yogyakarta

Sudah lebih dari setengah tahun saya tidak menulis dalam blog ini. saya hanya bisa membagikan tulisan saya berbentuk feature tentang perjalanan saya ke yogya.

Judul di atas terinspirasi saat saya mengingat-ingat kembali lagu "Yogyakarta" milik kla Project. :)

Liburan 2009 yang lalu, saya memutuskan untuk plesiran ke Yogyakarta. Kota yang tercatat dalam sejarah sebagai peninggalan kerajaan Mataram Hindu pada abad ke-10 Masehi membuatnya begitu istimewa di mata saya.

Saya bersama dua orang teman saya memutuskan kesana. Tiket pesawat murah dari AirAsia,pakaian seadanya dan sedikit uang mewujudkan impian kami menuju yogyakarta. Backpacker sebutannya. Istilah ini bermula dari kaum muda yang sering berpergian dengan menggunakan ransel dan menggunakan dana seminim mungkin dalam berwisata. Untuk itulah para backpacker ini sering disebut turis ransel.

AirAsia membawa kami mengudara selama satu jam menuju Yogyakarta. Selepas menjejakkan kaki di tanah Mataram ini, kami segera bergegas mencari penginapan murah sekitar Malioboro. Kami beristirahat sejenak di hotel dan setelah itu mencari angkringan terdekat disekitar Malioboro untuk menikmati sego kucing sebagai makan malam kami.

Hari kedua – Kraton Yogyakarta, Borobudur dan Prambanan adalah obyek yang akan kami kunjungi. Berhubung masih asing dengan kota ini, maka kami memutuskan menggunakan jasa sewa mobil hotel. Beruntung dengan tawar-menawar yang cukup alot dengan pihak hotel, harga murah lagi-lagi kami dapatkan ditambah bonus mengantar kami ke tempat ziarah katolik Gua Sendangsono.

Tempat pertama kunjungan kami adalah Kraton Yogyakarta dengan alasan letaknya yang paling dekat dengan hotel. Terletak di pusat kota Yogyakarta, Kraton berasal dari kata ka-ratu-an berarti tempat tinggal raja/ratu. Tatanan kraton yang menyerupai seperti tatanan dinasti Majapahit pernah mengalami guncangan hebat akibat gempa pada tahun 1867. Tahun 1889 bagunan tersebut dipugar dengan tidak mengubah tata letak asli dari bangunan walau bentuk bangunan mengalami sedikit perubahan.


Puas berfoto di keraton, kami melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan. Berjarak 17 kiometer dari timur yogyakarta, candi dengan tinggi 47 meter ini dibangun pada abad ke-9. Didalam lingkungan candi prambanan, terdapat 3 Candi utama. Terletak di tengah, utara dan selatan yaitu Candi Siwa, Wisnu, dan Brahma.Pada dinding pagar candi, jika diteliti, banyak relief dari cerita ramayana yang terpahat disana.


Cuaca terik siang itu, tak menyurutkan kami untuk melanjutkan perjalanan menuju candi Borobudur. Candi Budha besar yang dibangun pada abad ke-9 ini pernah masuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Dari sekian banyak penjelasan mengenai asal muasal kata borobudur, menurut saya yang tampak masuk akal dan dapat diterima pengertiannya adalah dari kata “Bara” dan “beduhur”. Bara yang berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya candi atau biara, sedangkan beduhur artinya adalah tinggi. Ya, Borobudur adalah sebuah biara yang berada di tanah yang tinggi. Di lingkungan Borobudur, saya banyak melihat ukiran Budha di dinding candi. Selain itu banyak terdapat arca Budha yang duduk bersila dalam posisi lotus dengan tangan melakukan simbol tertentu Dalam bahasa budha, posisi tangan ini dikenal dengan sebutan mudra.



Pada 15.00 kami segera melanjutkan perjalanan menuju tempat ziarah umat katolik, Goa Maria Sendangsono. Terletak di desa Banjaroyo, menghadap barat laut yogyakarta. Di tempat ini terdapat sendang atau mata air yang muncul di antara dua pohon sono. Airnya dipercaya warga sekitar dan pengunjung dari luar kota dapat menyembuhkan penyakit. Tempat ini salah satu tujuan peziarah dari seluruh indonesia untuk berdoa, menyucikan dan menyepikan diri. Biasanya ramai pada bulan Mei dan Oktober. Nyaman hati saya ketika berada di tempat ini terutama ketika saya berdoa. Hari kedua kami tutup dengan kembali menuju hotel. Merebahkan diri dari panas cuaca Yogyakarta hari itu.

Hari ketiga, kami mempersiapkan diri untuk kembali ke Jakarta. Pulang. Kemanapun kami pergi, pulang selalu menjadi tujuan akhir kami. Awak AirAsia menyambut perjalanan kami kembali ke Jakarta. Senyum mereka seperti penyambutan keluarga yang telah kembali pulang sehabis puas menikmati keindahan Ibu Pertiwi.

Sepotong lirik "yogyakarta" Kla Project

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu

(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar