Kamis, 20 Mei 2010

IMPIAN

Saya benar-benar merasa lelah.
siang ini bermimpi, tepatnya mengkhayal :) bahwa saya mantap meninggalkan pekerjaan di jakarta.menyusun kehidupan baru saya di kota lain.pilihannya adalah yogyakarta atau solo.sebuah rumah kampung dengan banyak pohon rindang tergambar jelas dalam imajinasi saya, seperti pohok oak ataupun cemara.

anak-anak bermain dibawahnya.memindahkan video klip "hujan"nya jubing dalam lamunan saya ternyata begitu mudah. sesekali mereka berlari saling mengejar.sementara saya berdiri dalam sudut kamar lainnya. dari belakang jendela menatap mereka sambil menyerutup teh yang masih hangat kedalam mulut saya.

sementara gerimis tiba-tiba turun.anak-anak berhamburan.bukan pergi menuju rumah mereka masing-masing. tetepi mereka meloncat-loncat kegirangan menggapai hujan.
ya, saya pun segera beranjak keluar menemani mereka menggapai hujan.
tidak perlu menunggu hujan untuk melihat pelangi...
anak-anak itu adalah pelangi dimata saya.dalam mata mereka tidak ada kecemasan. kepolosan mereka justru yang mengisi hari ini. ya...hari ini.

Gede prama pernah menulis ini "Yesterday is history, tomorrow is mystery, and today is gift. That’s why it’s called “the present”.
hari ini adalah sebuah hadiah, persembahan yang kau dapat.
saya iri dengan anak-anak ini dalam lamunan saya.anak-anak selalu dapat merefleksikan hari ini dengan hati bersyukur dalam memandang hidup.
mereka tidak pernah mempermasalahkan hari kemarin dan esok. hari ini adalah hari ini.bagaimanapun inilah detik-detik hati bersyukur atas nama cinta.

Saya seperti terjebak dalam rutinitas yang saya ciptakan sendiri. saya ingin segera keluar dari jebakan ini.
saya pikir inilah pilihan hidup yang harus saya ambil.
bagaimana membuat segala sesuatunya nyaman, meski tak selalu aman.
saya bisa mendapatkan kenyamanan dari nyanyian jangkrik di malam hari, mendapatkan kenyamanan dari masakan dari hasil olahan kebun belakang rumah saya. ataupun membaca buku dari teras rumah saya sambil sesekali menatap anak-anak yang berlari saling mengejar memutari pohok oak dengan hati gembira.

Gedung-gedung ini membuat sesak nafas saya.Oksigen semakin tipis menutupi pandangan saya ke depan. tak tampak dengan jelas apakah tujuan hidup saya. asap-asap kendaraan mengaburkan pandangan saya itu. Manusia tampak seperti robot...sibuk menyebrangi jalan sambil berbicara di handphone, sementara sisi tangan yang lain sibuk membawa berkas-berkas bisnis.


saya hanya bermimpi...
suatu saat saya dapat melakukan semuanya dengan hati seperti seorang anak.
dan saya hanya berharap,
suatu saat mimpi saya dapat menjadi kenyataan.
Tiga tahun kedepan, sepertinya ini adalah jarum pasir yang akan mengingatkan saya kembali apakah impian saya ini telah menjadi kenyataan.

Beth
4.41 PM

Rabu, 12 Mei 2010

KEN & KEI


Kelak nama itu akan kau sanding."Lintang Kei Dharmawan"......
seperti pesona bintang di malam hari, berkelap-kelip membawa terang untuk dunia.Itulah dirimu kelak. seorang yang akan mengisi janin di dalam perut ibumu.sebuah nama perpaduan antara bahasa sangsekerta dan jepang.Kelak matamu akan memancarkan cahaya menyerupai bintang ketika engkau berceloteh dan belajar memanggil nama ibu dan ayahmu untuk pertama kalinya.

Saudaramu sendiri "Keenan bodhi dharma".........
seorang yang unik setidaknya itulah arti namanya dalam bahasa skotlandia, selain unik. persandingan antara kebaikan hati, budi dan berdharma untuk sesamanya seperti dalam bahasa sangsekerta.Kalian akan saling bergandengan tangan dalam segala kondisi kehidupan, saling menopang dari segala keterpurukan dan kalian akan saling melengkapi dalam kehidupan kepada sesama manusia.
oleh karena itu, calon ibumu kelak memberikan nama kalian seperti itu.

Kehidupan memang tidak selamanya baik. seperti roda yang terus berputar.tetapi kalian adalah kekuatan yang akan membuat orang tuamu menangis penuh haru dalam kebahagiaan.Masa-masa yang sulit pasti akan terlewati, sedang masa bahagia telah menantimu.
Jangan pernah takut. karena orangtuamu telah melalui semua itu sebelum engkau terlahir di dunia ini, melewati setiap kerikil-kerikil tajam, bahkan terjatuh....semua itu harus dilalui asalkan dapat terus saling bergandengan tangan.

Ketika kalian kelak berada dalam janin ibumu..ingatlah,bahwa engkau memang telah dibentuk dengan kasih sayang luar biasa dari orang tuamu.mereka mempunyai harapan-harapan baik untuk kalian dan cintanya bahkan melebihi cintanya pada diri sendiri.
Ingatlah juga bahwa kalian diciptakan menurut Rupa dan Wajah BapaMu di surga, Dia yang telah menenun kalian dalam kandungan ibumu.Dia pula yang akan menyertai kehidupan anak-anakNya.

Lihatlah...persiapkanlah dirimu ketika kau hadir dalam semesta yang luas ini. Mereka, sahabatmu pertama kali yang akan siap menyambut engkau dengan bahagia adalah orang tuamu sendiri.

Beth
4.51 PM

SURAT UNTUK SAHABAT

Sahabat, tiba-tiba kau datang padaku dengan wajah yang lain.kau bercerita padaku tentang sebuah mimpi,yang melayang menyambut kehilangan....
terisak kemudian terdiam, sementara hatiku pilu mendengar kisahmu..ingin rasanya kuhapus air mata itu dari mata yang menyimpan amarah dan kepedihan.

aku memilih membiarkan air mata itu tertumpah, "lihatlah...bukankah hujan telah mengirimkan rintiknya terlebih dahulu sebelum mendatangkan hujan?.sahabat, lihatlah kedalam dirimu, bukankah kau telah mempercayai besar dan agungnya cinta sebelum kau merasakan patah dan sakitnya cinta?"

Tiada awal dan tiada akhir, semuanya harus terjadi dan harus dilalui....tetaplah berpegang pada tanganku.
aku yakin tanganku cukup kokoh untuk sekedar menarikmu dari kepedihan ini.
aku yakin tanganku yang kecil ini cukup lebar untuk memeluk engkau ketika kau terisak dalam tangis yang berkepanjangan.

Kepedihan itu pernah aku alami...namun kita harus bangkit dari keterpurukan, sementara jalan ini masih panjang.kerikil-kerikil ini hanya bisa melukai langkah kita sejenak, cukup tiga hari tiga malam saja untuk melewati masa ini, selebihnya ia tidak akan bisa menghambat aku untuk terus berjalan sampai pada ujung jalan itu.

Seperti tak kan pernah puas kau membiaskan cahaya, ia tetap ada...remang yang kau lihat berasal dari hatimu.sini ku tunjukkan cahaya yang sebenarnya abadi...lihatlah kedalam matamu.
mata yang dulu pernah menunjukkan kejenakaan seorang bocah ketika bercerita pada ibunya, dengan tubuh melompat-lompat kemudian berlari memeluk tubuh sang ibu, mata itu merajuk untuk segera berlari menyambut gerimis.....ketika sang ibu mengiyakan dan tersenyum, mata itu berlari, menari dan melompat-lompat kegirangan, seketika hujanpun turun, turut menemani mata itu dengan bahagia.

Bahkan saat daun-daun gugur meratap ketanah, ritual yang kita selalu lakukan adalah menyebarkan daun-daun kering itu keatas langit, supaya angin juga bisa membawa kebahagian untuk semua orang. seperti musim semi yang kita selalu rindukan...

Sahabat, aku akan selalu terjaga...supaya engkau tidak akan pernah terhempas dari genggamanku.
aku akan menceritakan cerita-cerita jenaka supaya air matamu terhapus, terganti dengan wajah merah pipimu menahan tawa.

Beth
04.00 Menjelang pagi

Kamis, 25 Maret 2010

memoar genggaman tangan


malam sebelumnya.......
Dia telp saya namun ternyata kelelahan tidak dapat di tolerir lagi,kelelahan ini membuat saya tertidur cepat meski waktu menunjukkan antara pukul 21.00 wib - 22.00 wib waktu jakarta.

pagi-pagi tanda misscall di handphone saya baru saya lihat.waktu itupun membuat saya harus segera mandi dan bergegas pergi ke kantor, 30 menit adalah waktu yang saya punya pagi itu.

Setiba di kantor dering handphone saya pun berbunyi, ah ternyata orang yang sama seperti yang saya lihat tadi pagi di misscall handphone saya.
" hai beth..... i miss you miss beth, karena kemarin belum sempet ngobrol, hari ini aku ngerasa kangen banget sama kamu" hehehehe...saya senyum-senyum sendiri, jadi teringat telp sebelumnya dari dia.
" hai beth...i miss you" katanya....
"hmmm....sepertinya salah sambung, saya bukan miss you...tapi miss beth" kata saya kala itu.
dan kali ini dia cerdas mengulang pernyataan yang sama dengan penggabungan kata dari penyanggahan saya.

Dia-lah teman saya berbagi selama ini, selama lima tahun belakangan ini.
selintas kemudian, ingatan saya mundur pada beberapa tahun sebelumnya,
entah lah saya harus memulai dari mana untuk menceritakan semua ini,
lima tahun yang lalu pada genggaman tanganlah semua ini bermula.
Pada cerita-cerita klasik di tepi pantai itulah kita berbagi hingga membuat kita tertawa terbahak-bahak, meringgis, kemudian menangis.
Pada mata terpejamlah kita saling merasakan mata batin, tidak melulu mata dunia yang selama ini kita jadikan sandaran hati manusia seperti kita.

Itulah awal dari hubungan ini,sebuah genggaman tangan. ya....sebuah genggaman tangan.
Ketika engkau merasa bahwa dunia dan waktu seakan berjalan sendiri meninggalkan engkau,ingatlah satu dari sekian banyak sahabat engkau akan datang menghampiri engkau, mengajak engkau bicara dan bercerita, dan efek yang terjadi adalah engkau akan terbahak-bahak tertawa lepas, atau meringgis, menangis atau bisa saja dalam hitungan beberapa sekon waktu, itu terjadi secara bersamaan.
sahabat itu akan menggengam anda dan berkata, "ingatlah bawa engkau tidak sendiri di sini"

Engkau merasa bahwa engkau harus menerima apa yang tidak sepantasnya kau terima, pertama kali, terimalah itu dulu karena ketika penerimaan pada diri sendirilah membuat hidup menjadi seimbang dalam harmonisasi. menerima rasa sakit dari penyakit ginjal telah dilakukan oleh ibu saya. Ibu saya tahu bahwa penyakit ini tidak akan membuatnya sembuh total meskipun dengan cuci darah sekalipun, penerimaan dirilah kuncinya, pada malam terakhir sebelum ibu saya berpulang, saya menggengam tangannya yang semakin saya rasakan semakin mengecil,
saya berkata " ma, apa yang seharusnya terjadi, biarkan terjadi ya...."
dan mama saya hanya tersenyum, senyum terakhir yang teramat manis masih saya simpan dalam memori kenangan bersama itu.

Terima kasih buat genggaman tangan kalian yang telah memangku sebagian tangan saya dalam ketimpangan perjalanan ini, untuk terus merefleksi hidup ini dengan lebih bijak, lebih seimbang dalam harmonisasi jiwa.

Beth

Selasa, 09 Februari 2010

September




















Waktu itu hujan di bulan september
Angin bergerak tenang ke barat
Langkah kami seperti menghitung pasir
berdiri dari sebutir demi sebutir
siapa yang merangkainya,menciptanya
dan siapa yang membuatnya menjadi indah ?
Aku menganggapnya sebagai elegi

Aku yang telah memintamu berdiri diatas tebing
memintamu berteriak tentang duniamu tanpa sekat
nyatanya hanya ada diam
nyanyian angin telah berubah menjadi badai
mengguncang dunia menjadi pekat dan gelap

selanjutnya masa berkabung telah menyemai dengan pelarian
kemana lagi aku melangkah?? tanyaku
pasir yang ada,tidak pernah lagi sama
ketika aku menjejakkan kaki dari suatu kegelapan tiada berkata
dari sinar mata yang tiada terlupakan
sementara..........
masih ada pertanyaan yang aku relakan tanpa jawaban
masih ada surat yang aku relakan tanpa dikirim
dan masih ada hati yang aku relakan untuk dibinasakan
mati....dan hilang !!!

kita yang telah mencipta akan gugur
kita yang telah merangkai akan meruncing
seperti panah yang kita tancapkan tanpa perih
Di sini telah datang suatu perasaan,
Serta kita akan menderita dan tertawa.
Tawa dan derita dari yang tewas
yang mencipta…..


(sebagian di kutip dari puisi asrul sani)

Selasa, 02 Februari 2010

OASE


Inilah akhirnya
pada kaki sebelah kanan, mata air mengalir
pada kaki sebelah kiri, kemarau meraja
oase sendiri hadir tepat didepanku

Cepat bawa aku
sebelum angin membawaku menembus langit tanpa batas
dan air mata membendung mata hatiku
aku hanya rindu kicau burung pada pagi hari
bau tanah semalam yang tersiram hujan
serta daun-daun anggun yang gugur meratap ke tanah

dan inilah
akhir dari segala awal
sementara sesuatu yang baru sedang bertunas
beranak dan membiak....

dan inilah....
aku............

Selasa, 22 Desember 2009

Bermimpilah, kejarlah mimpimu !!!!


" Nasib tidak mendahului kita”,
“Mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia”,
“Kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu”,
“Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati.”
“ Berlarilah terus mengejar mimpimu, arai adalah orang yang terus meminta
saya berlari mengejar mimpi saya”


Beberapa kutipan diatas terus menerus bermain dalam pikiran saya, kutipan dari film “ Sang Pemimpi” yang diadopsi dari novel dengan judul yang sama.

Sebelum saya bercerita lebih banyak tentang makna dari beberapa kalimat yang saya kutip tersebut, izinkan saya menceritakan awal mula dari kejadian yang melatarbelakangi saya untuk mengambil kutipan tersebut dalam penulisan saya kali ini.

Pertama, saya harus berterima kasih kepadi Firman, teman saya yang telah memenuhi harapan saya untuk menonton. Dari sebuah janji akhirnya menjadi kenyataan.itulah firman, dia selalu menepati janji pada apapun yang telah dikatakan.Firman berjanji setelah dia mendapatkan bonus (yang pertama dan terakhir) dari ex perusahaan tempat dia bekerja, dia akan mentraktir saya untuk menonton.

Hari yang dinanti akhirnya tiba, kabar baik datang dari firman, bonus telah berpindah ke rekeningnya. Maka kami putuskan malam ini untuk segera bergegas pergi menonton di bioskop.
Tadinya kita sepakat akan menonton ninja asassin, namun kenyataan berkata lain, film yang akan kita tonton ternyata sudah kadaluarsa, sudah tidak beredar di bioskop. akhirnya saya, firman, koder dan “teman-teman kecil” lainnya; jakir, limey dan rico untuk menonton film lain.
Tugas untuk membeli tiket nonton, kami serahkan pada koder dan rico, sementara saya dan firman yang belum selesai menyantap habis makan malam kami, ditugaskan untuk menunggu Jakir dan Limey yang datang terlambat, merekalah yang kedua saya ucapkan terima kasih karena dari mereka banyak kisah yang sering saya bicarakan dengan koder, sahabat saya dalam berbagi.

Tidak beberapa lama setelah kami hampir menyantap habis makanan kami, Jakir dan Limey pun datang, kami ngobrol sebentar dan kemudian telepon masuk dari rico mengabarkan bahwa kami diminta segera ke bioskop karena film akan segera dimulai.

Rico rupanya sedikit kesal, karena film yang diharapkannya Avatar tidak jadi ditontonnya.rupanya saya tahu mereka ingin memenuhi harapan saya lainnya yaitu alternatif setelah film ninja asassin tidak dapat kami tonton, makan sang pemimpilah jawab dari semua ini. Terima kasih kawan, sekali lagi sudah memenuhi mimpi dan harapan saya.

Yang ketiga, orang yang saya kagumi, seseorang dalam kata-kata, dalam tulisannya, telah berhasil memperkenalkan semangat arai dalam rangkaian proses kehidupan saya, membuat jiwa saya berteriak, membara, meloncat dan akhirnya kembali menjejakkan kaki kebumi untuk kemudian berlari mengejar apapun mimpi – mimpi saya. Sosok Andrea Hirata berhasil menuangkan ilmu, semangat, integritas, keberanian bercita-cita, memberikan inspirasi, dan ajakan untuk tidak menyerah, dalam karyanya, sebuah novel yang ditulisnya dengan judul “sang pemimpi” dan sekarang sekuel versi film nya sedang kami tonton.

Dan uniknya, kadang kita mendapatkan semua itu tanpa kita sadari, kita mendapatkan mimpi kita dengan cara-cara yang tidak pernah kita bayangkan.

“Daratan ini mencuat dari perut bumi laksana tanah yang dilantakkan tenaga dahsyat kataklismik. Menggelegak sebab lahar meluap-luap di bawahnya. Lalu membubung di atasnya, langit terbelah dua. Di satu bagian langit, matahari rendah memantulkan uap lengket yang terjebak ditudungi cendawan gelap gulita, menjerang pesisir sejak pagi. Sedangkan di belahan yang lain, semburan ultraviolet menari-nari di atas permukaan laut yang bisu berlapis minyak, jingga serupa kaca-kaca gereja, mengelilingi dermaga yang menjulur ke laut seperti reign of fire, lingkaran api. Dan di sini, di sudut dermaga ini, dalam sebuah ruangan yang asing, aku terkurung, terperangkap, mati kutu.”

Kutipan kalimat-kalimat di atas adalah paragraf pertama pada mozaik 1 (what a wonderfull world) dalam buku “Sang Pemimpi” yang ditulis oleh Andrea Hirata. Gaya bahasa yang digunakan tak ubahnya seindah buku pertamanya “Laskar Pelangi”; metafor, kritis, deskriptif, dan sarat dengan makna. Andrea melukiskan pandangan yang berbeda tentang nasib, tantangan intelektualitas, dan kegembiraan yang meluap-luap, sekaligus kesedihan yang mengharu biru, rasa humor yang memiliki efek filosofis. Sang pemimpi, sang inspiratif.

perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah tiga orang tokoh utama film ini: Ikal, Arai dan Jimbron akan memberikan daya tarik sehingga penonton dapat melihat ke dalam diri sendiri dengan penuh pengharapan, agar menolak semua keputusasaan dan ketakberdayaan.

“Kita tak kan pernah mendahului nasib!” teriak Arai. “Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apa pun yang terjadi!”

Menyaratkan pesan untuk percaya akan tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan pengorbanan, bahkan membuat kita percaya kepada Tuhan.
Arai dan ikal (tokoh sentral dalam laskar pelangi, sekuel pertama sebelum sang pemimpi) masih bertalian darah,malang nasib arai, waktu ia kelas 1 SD, ibunya wafat saat melahirkan adiknya. Arai, baru 6 tahun ketika itu, dan ayahnya, gemetar di samping jasad beku sang ibu yang memeluk erat bayi merah bersimbah darah. Anak-beranak itu meninggal bersamaan. Lalu Arai tinggal berdua dengan ayahnya. Kepedihan belum mau menjauhi Arai. Menginjak kelas 3 SD, ayahnya juga wafat. Arai menjadi yatim piatu, sebatang kara. Ia kemudian dipungut keluarga Ikal.Arai sosok yang spontan, jenaka , optimis, baginya seolah tak ada sesuatupun didunia ini yang membuatnya sedih, gentar dan patah semangat.

“Aku teringat, beberapa hari setelah ayahnya meninggal, dengan menumpang truk kopra, aku dan ayahku menjemput Arai. Sore itu ia sudah menunggu kami di depan tangga gubuknya, berdiri sendirian di tengah belantara ladang tebu yang tak terurus. Anak kecil itu mengapit di ketiaknya karung kecampang berisi beberapa potong pakaian, sajadah, gayung tempurung kelapa, mainan buatannya sendiri, dan bingkai plastik murahan berisi foto hitam putih ayah dan ibunya ketika pengantin baru. Sebatang potlot yang kumal ia selipkan di daun telinganya, penggaris kayu yang sudah patah disisipkan di pinggangnya. Tangan kirinya menggenggam beberapa lembar buku tak bersampul. Celana dan bajunya dari kain belacu lusuh dengan kancing tak lengkap. Itulah seluruh harta bendanya. Sudah berjam-jam ia menunggu kami. Tampak jelas wajah cemasnya menjadi lega ketika melihat kami. Aku membantu membawa buku-bukunya dan kami meninggalkan gubuk berdinding lelak beratap daun itu dengan membiarkan pintu dan jendela-jendelanya terbuka karena dipastikan tak 'kan ada siapa-siapa untuk mengambil apa pun. .... Kami menelusuri jalan setapak menerobos gulma yang lebih tinggi dari kami. Kerasak tumpah ruah merubung jalan itu. Arai menengok ke belakang untuk melihat gubuknya terakhir kali. Ekspresinya datar. Lalu ia berbalik cepat dan melangkah dengan tegap. Anak sekecil itu telah belajar menguatkan dirinya. Ayahku berlinangan air mata. Dipeluknya pundak Arai erat-erat. ... Aku tak dapat mengerti bagaimana anak semuda itu menanggungkan cobaan demikian berat sebagai Simpai Keramat. Arai mendekatiku lalu menghapus air mataku dengan lengan bajunya yang kumal. Tindakan itu membuat air mataku mengalir semakin deras. ... Melihatku pilu, kupikir Arai akan terharu tapi ia malah tersenyum dan pelan-pelan ia merogohkan tangannya ke dalam kacung kecampangnya. ... Ia mengeluarkan sebuah benda mainan yang aneh. Aku melirik benda itu dan aku semakin pedih membayangkan ia membuat mainan itu sendirian, memainkannya juga sendirian di tengah-tengah ladang tebu. ... Aku tersenyum tapi tangisku tak reda karena seperti mekanika gerak balik helikopter purba (mainan) ini, Arai telah memutarbalikkan logika sentimental ini. la justru berusaha menghiburku pada saat aku seharusnya menghiburnya. ... Arai melangkah menuju depan bak truk. la berdiri tegak di sana serupa orang berdiri di hidung haluan kapal. Pelan-pelan ia melapangkan kedua lengannya dan membiarkan angin menerpa wajahnya. Ia tersenyum penuh semangat. Agaknya ia juga bertekad memerdekakan dirinya dari duka mengharu biru yang membelenggunya seumur hidup. Ia telah berdamai dengan kepedihan dan siap menantang nasibnya. Ia menggoyanggoyang tubuhnya bak rajawali di angkasa luas. "Dunia...!! Sambutlah aku...!! Ini aku, Arai, datang untukmu ...!!" Pasti itu maksudnya. Ayahku tersenyum mengepalkan tinjunya kuat kuat dan aku ingin tertawa sekeras- kerasnya, tapi aku juga ingin menangis sekeras-kerasnya.”

Tokoh lainnya dalam film ini yang membuat saya semakin mantap mengejar mimpi-mimpi saya adalah Guru sastra Ikal dan arai di SMA adalah pak Balia.
berikut ini kutipan yang saya ambil dari pak balia;

" What we do in life ..." kata Pak Balia teatrikal, "... echoes in eternity...!! Setiap peristiwa di jagat raya ini adalah potongan-potongan mozaik. Terserak di sana sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang- ruang. Namun, perlahan-lahan ia akan bersatu membentuk sosok seperti montase Antoni Gaudi. Mozaik-mozaik itu akan membangun siapa dirimu dewasa nanti. Lalu apa pun yang kaukerjakan dalam hidup ini, akan bergema dalam keabadian... "Maka berkelanalah di atas muka bumi ini untuk menemukan mozaikmu!"”
"Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Sartre, Louis Pasteur, Montesquieu,Voltaire. Di sanalah orang belajar science, sastra, dan seni hingga mengubah peradaban...."


makanya tidak heran, bila arai pernah berkata kepada ikal, “ setelah kita tamat dari SMA ini, mungkin kita hanya mendulang timah atau menjadi kuli,tapi di sekolah ini kal, kita tidak akan pernah mendahului nasib kita”

Seorang guru seperti pak balia lah yang terus memompa semangat ikal dan arai dalam mengejar mimpi, seorang guru yang setiap hari meminta anak-anaknya meneriakkan dengan lantang kata-kata yang menggugah semangat untuk mengejar mimpi.
Inilah kutipan-kutipan yang sebagian dibacakan oleh murid – murid pak balia;

"Seluruh kesulitan dalam hidup ini adalah bagian dari suatu tatanan yang sempurna dan sifat yang paling pasti dari sistem tata surya ini." (Pierre Simon de Laplace)

"Tak semua yang dapat dihitung, diperhitungkan, dan tak semua yang diperhitungkan, dapat dihitung!” (Albert Einstein)

"Perempuan adalah makhluk yang plin-plan, maka pertama-tama, buatlah mereka bingung!" (Arai)

"Masa muda, masa yang berapi-api!” (Haji Rhoma Irama)


Sekali lagi saya berterima kasih untuk Firman, Koder, Jakir, Limey dan rico, dan spesial untuk Andrea Hirata yang menghadirkan Arai dan Pak balian dalam proses kehidupan saya. Karena melalui merekalah,dalam kesadaran saya yang tipis dan masih rentan, dalam keadaan yang tidak terduga dan tidak pernah terpikirkan oleh saya, lautan mimpi ini akan semakin nyata, semakin dekat, semakin bergelora, dan membuat saya tidak akan pernah berhenti berlari mengejar mimpi-mimpi saya.

Beth
22.12.2009